Manfaatkan Bambu Jadi Gelas dan Barang Hias

Sungai Enau – Berbagai Sumber Daya Alam (SDA) yang telah ada di desa memang sudah seharusnya berdayakan atau dimanfaatkan dengan baik.

Memanfaatkan SDA yang ada perlunya suatu inovasi dan kreatifitas bagi masyarakat. Dari hal tersebut pentingnya peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas agar bisa terus menemukan inovasi-inovasi baru di pedesaan, sehingga bisa diaplikasikan dalam kehidupan di desa.

Kreatifitas memang sangat diperlukan untuk mendesain berbagai produk unggulan yang ada di desa-desa. Sebagaimana dengan adanya inovasi dan kreatifitas yang bisa memanfaatkan SDA yang ada di desa bisa membantu untuk meningkatkan perekonomian masyarakat desa apabila inovasi dan kreatifitas itu dilakukan dengan baik.

Salah satu bidang yang telah dilakukan oleh masyarakat Desa Sungai Enau adalah memanfaatkan SDA yang ada didesa yaitu memberdayakan pohon bambu menjadi barang-barang berharga yaitu dijadikan gelas.

Memang tidak semua masyarakat bisa melakukan hal yang kreatif, karena kekreatifan itu sifatnya ada pada karakteristik dari masing-masing individu dan diaplikasikan melalui komunitas, maupun organisasi atau sekumpulan masyarakat tertentu.

Kreatifitas pemuda desa yang telah dilakukan telah diaplikasikan melalui pembuatan “Gelas” dari “Bambu”. Gelas yang dibuat tersebut dibuat, karena menilai bahwa SDA yang ada di Desa Sungai Enau perlu dimanfaatkan dengan baik. Hal ini disampaikan oleh Maryadi sebagai pelopor penggerak dan inovator dari kreatifitas.

“Inovasi ini kami lakukan, karena saya dan teman-teman pemuda bahwa sumber daya alam ini harus dimanfaatkan dengan baik, terlebih pohon bambu ini, kami coba membuat inovasi baru untuk membuat gelas dari bambu”, ucapnya.

Pembuatan gelas dari bambu tersebut, dibuat dalam bentuk kemasan yang menarik dengan ukuran kecil dan besar.

Gelas bambu tersebut, sudah tidak lagi hanya sebagai kreatifitas simbolis saja, akan tetapi sudah menjadi penghasilan bagi pemuda atau masyarakat Desa Sungai Enau. Karena gelas yang ukurannya kecil sudah dijual dengan seharga Rp.6.500 (enam ribu lima ratus rupiah) persatuannya dan yang ukuran besar mereka jual dengan harga Rp. 50.000 (lima puluh ribu rupiah) persatuannya.

Karena kekreatifan tersebut menarik maka banyak konsumen yang tertarik untuk membelinya.

“Alhamdulillah. Ya cukup banyak pemesanan dari konsumen untuk membeli produk hasil kreatifitas kami, bahkan yang pesan ada yang dari luar kota,” tambah Maryadi yang juga sebagai direktur Bumdesma Pancasila Kuala Mandor B.

Namun demikian, Maryadi menyebutkan bahwa ada penghambat percepatan dalam proses pembuatan gelas dan lain sebagainya. Alasannya karena pihaknya masih menggunakan alat yang sangat tradisional dan memang sangat kealamian.

“Agak sedikit terhambat dalam pembuatan gelas dari bambu ini, yang membuat lama itu adalah untuk mengeringkan bambu itu. Karena kami masih pakai alat tradisional masih belum ada alat akan hal itu,” ungkapnya.

Meskipun yang digunakan masih alat tradisional, akan tetapi pemuda desa sungai enau ini tetap semangat melakukan kreatifitas kerajinan tangan pembuatan gelas dari bambu.

Dilihat dari penghambat diatas, maka perlunya solusi untuk mengatasi penghambat tersebut yang menjadikan kinerja pembuatan produk semakin lama prosesnya. Maka diperlukan suatu solusi, seperti halnya pengadaan alat bantu untuk pengeringan bambu dan alat-alat lainnya untuk didapatkan oleh mereka (pengrajin bambu) agar proses pembuatan produk lebih cepat, sehingga konsumen tidak lagi menunggu waktu lama untuk membelinya. Namun perlu diketahui juga bahwa hak itu diperlukan dana yang cukup besar untuk mendapatkannya.

Rokib

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan